Tahun 2018, saya menjalani satu semester program credit transfer mobility di Szent Istvan University (sekarang Hungarian University of Agriculture and Life Sciences) di Godollo, Hongaria. Saya mahasiswa Teknik Informatika di Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS), tapi program pertukaran ini menempatkan saya di Fakultas Teknik Mesin dengan mata kuliah CAD, Elektronika, Manajemen Mutu, dan Informatika.
Di luar urusan akademik, kehidupan kampus di sana membawa pengalaman yang tidak saya sangka. Salah satunya adalah Researchers Night.
Setiap tahun, universitas mengadakan acara ini di mana mahasiswa internasional menampilkan negara asal mereka lewat makanan, musik, pakaian, dan obrolan. Acara utamanya adalah Global Village: tiap negara dapat satu booth di Rector Hall, lalu pengunjung berkeliling mencicipi makanan dan mengenal budaya masing-masing. Bukan cuma mahasiswa, keluarga lokal Hongaria juga datang, orang tua membawa anak-anak mereka mencicipi makanan dari seluruh dunia.
Tanggal 28 September 2018, kami bertujuh mahasiswa pertukaran dari Indonesia mewakili negara kita. Saya bawa kamera dan merangkum suasana malam itu dalam video pendek ini.
Menyiapkan Booth
Rector Hall penuh dengan booth. Di sebelah kami, tim Malaysia sudah menata display mereka. Di seberang ruangan, mahasiswa Kirgistan memainkan komuz (alat musik petik tradisional), dan delegasi India memenuhi meja mereka dengan karya seni dan display budaya.
Kami pasang bendera Merah Putih di depan meja, lalu buka laptop yang memutar video "Wonderful Indonesia" tanpa henti. Tapi yang jadi magnet utama tentu saja makanannya.

Semua kami masak sendiri: perkedel, bala-bala (bakwan), Indomie Mie Goreng, dan rendang. Kami juga siapkan wedang jahe untuk menghangatkan badan di malam Hongaria yang dingin.
Rendang habis duluan. Indomie bikin banyak orang kaget: "Ini mie instan? Serius?" Dan wedang jahe selalu bikin pengunjung terkejut karena mereka mengira itu teh, bukan minuman jahe yang pedas dan hangat.
Totopong yang Tidak Terduga
Kami bawa setumpuk totopong (ikat kepala Jawa) sebenarnya cuma buat pajangan. Perkiraan kami, orang paling cuma lihat sebentar, tanya satu dua pertanyaan, lalu jalan lagi.
Ternyata salah besar.

Mahasiswa dari berbagai booth mulai mengantri untuk mencoba. Mahasiswa Kenya datang dan kami bantu ikatkan di kepalanya. Mahasiswi Eropa berbaju kuning juga mau. Mereka pakai, pose foto, lalu panggil teman-temannya. Sebelum kami sadar, totopong sudah menyebar keluar dari booth kami. Di meja Palestina, satu kelompok besar berpose bersama, mahasiswa Indonesia dan Palestina berdampingan, semua pakai ikat kepala batik. Seorang mahasiswa Arab memakai totopong di atas keffiyeh-nya semalaman. Mahasiswa Afrika berbaju putih jalan-jalan keliling aula dengan bangga memakai totopong seolah itu miliknya sendiri.
Pertukarannya berjalan dua arah. Salah satu anggota tim kami malah pakai fez dari booth Turki. Itulah yang terjadi malam itu: berhenti jadi soal booth masing-masing dan jadi semua orang mencampur semuanya.

Kami setengah malam mengajari cara melipat dan mengikat totopong dengan benar. Di situlah saya sadar pertukaran budaya itu beneran bekerja. Bukan lewat presentasi atau brosur, tapi lewat hal sesederhana membiarkan seseorang memakai bagian dari tradisi kita dan melihat wajah mereka berbinar.
Malam yang Berkesan
Di satu titik, seseorang menyalakan musik dan tengah aula berubah jadi lantai dansa. Mahasiswa Indonesia, Timur Tengah, Eropa, dan Mongolia semua menari bersama, tidak ada yang benar-benar tahu gerakannya, semua cuma ikut arus.
Di akhir acara, semua booth berkumpul untuk foto bersama. Puluhan mahasiswa dari berbagai benua, kebanyakan masih memakai potongan pakaian budaya satu sama lain, berdesakan dalam satu frame. Butuh beberapa percobaan yang kacau untuk memasukkan semua orang.

Kalau melihat foto itu sekarang, rasanya jadi pengingat bahwa momen kecil penuh rasa ingin tahu dan keterbukaan inilah yang bikin program pertukaran ini berharga. Bukan kuliahnya, bukan sertifikatnya. Tapi malam di mana kita masak rendang di dapur kecil Hongaria dan menyaksikan mahasiswa Kenya mencoba ikat kepala Jawa untuk pertama kalinya.
Tim Kami
Delegasi Indonesia: Aldira, Muktiadi, Aditya, Haekal, Utami, Ni Putu, dan Nini. Tujuh orang, satu dapur yang sangat sibuk, dan satu malam yang sampai sekarang masih sering kami ceritakan.

28 September 2018, Godollo, Hongaria